SANG FOTOGRAFER

SANG FOTOGRAFER

CERITA SEX GAY,,,,,
“ Rayhan…, bangun dong…. Semuanya udah pada mandi tuh. Sebagian udah pada di make up tau. “

Aku terbangun, mataku masih saja berat untuk terbuka. Menyesal aku semalam bergadang. Ujung-ujungnya pasti begini deh.
Pagi ini ada sebuah acara yang mungkin akan menjadi sejarah dalam keluarga kami. Hari ini akan di laksanakan sebuah acara yang sakral antara kaka sepupuku dengan seorang pria tampan. Yups, hari ini kaka sepupuku akan melepas masa lajang nya dengan sebuah tali pernikahan.
Dengan cepat segera aku pergi ke kamar mandi. Air yang dingin menyentuh epidermis kulitku yang di tumbuhi banyak bulu ini. Rasa dingin menyeruak ke dalam kulitku. Segera kusabuni badan ini dengan perlahan, ku gosok semua bagian tubuhku ini.
Aku memiliki tubuh yang lumayan atletis. Berkat latihan GYM dan minum susu khusus untuk orang yang ingin memiliki badan atletis. Selain GYM, badanku yang atletis ini juga di bentuk dengan latihan basket yang rutin ku jalankan seminggu tiga kali.
Aku keluar dengan memakai celana pendek dan kaos hitam. Mama menegur saat melihat aku memakai pakaian seperti ini.
“ loh Rayhan, ko pake baju gitu doang? Kaka sepupu kamu kan udah nyediain jas buat kamu. Ayo cepetan pake. Udah siang ini “
“ Ia ma iaa… Rayhan juga mau pake jasnya sekarang ko. Jangan bawel deh “
“ Ya udah, kalau udah selesai kamu pergi ke ruang keluarga ya. Wajah kamu juga perlu di poles sedikit biar keliatan lebih cakep “
“ Ya ampun ma, Rayhan gak mau pake make up – make up gitu ah. Udah kaya banci aja.“
“ Ahh.. pokoknya kamu nanti ke ruang tamu aja. Ayo cepetan pake bajunya “
Mama pergi dari hadapanku. Ku ambil baju jas yang sudah di sediakan di atas kasurku. Setelah rapi, kulihat diriku di depan kaca. Begitu tampannya diriku ini.

*****
Kami semua sudah stand by di dalam masjid besar yang bersebelahan dengan gedung tempat resepsi. Kaka sepupuku sudah duduk cantik di depan meja kecil dan penghulu. Akhirnya sang pengantin pria datang. Ia memasuki masjid dengan gagah dan percaya diri. Balutan jas putih sangat membantu penampilan calon kaka sepupu iparku itu. Sungguh sangat mempesona wajahnya. Pantas saja kaka sepupuku begitu tergila-gila dengan nya.
Mereka berdua sudah duduk di depan penghulu. Acara inti pun segera di mulai. Sang penghulu mulai mengambil alih. Calon kaka sepupu ipar ku pun mengucapkan ijab qabul dengan tegas dan lantang. Alhamdulillah.. tak ada satu katapun yang salah. Akhirnya kaka sepupuku resmi menikah dengan sang pujaan hatinya. Rona wajah yang gembira terpancar dengan jelas. Kedua mempelai pun saling bertukar cin-cin. Acara demi acara sudah di laksanakan dengan baik dan berjalan lancar. Kini hanya tinggal melaksanakan resepsi hingga sore nanti.
Pada saat acara foto keluarga ada seseorang yang menarik perhatianku. Seorang Fotografer di depan sana begitu sangat mempesona. Badannya yang tinggi tegap dengan warna kulit yang putih menambah nilai plus untuk dirinya. Naluri Gay ku pun mulai aktif. Saking terpesonanya aku sampai tidak berkonsentrasi saat sesi foto itu.
“ Maaf mas, bisa tolong geser sedikit. Matanya juga liat ke kamera dong. Ko ngelamun sih? “ kata Fotografer itu.
Akupun segera memfokuskan diri. Aku kembali tersenyum dan bergaya di depan lensa kamera miliknya.
@@@@@
Saat ini aku sedang duduk di sebuah meja kosong untuk menikmati hidangan makanan dari catering yang sudah di sediakan. Ku lahap sendok-demi sendok makanan yang ada di piringku. Akhirnya perutku yang sedari tadi bernyanyi berhenti seketika setelah terisi oleh koloni si putih kecil ini.
Seseorang duduk dengan tiba-tiba di sebelahku. Saat ku tengok, ternyata itu si fotografer tampan yang membuatku tak fokus tadi. Ia hanya manggut dan tersenyum kepadaku. Ku alihkan pandanganku darinya. Terdengar suara dentangan sendok dan piring yang saling beradu. Aku bangkit dari sana hendak pergi menjauh, tapi si Fotografer itu memegang tanganku. Segera ku tepis pegangannya itu.
“ ngapain pegang-pegang saya mas? “ kataku.
“ Eehh… enggak, mas mau kemana? Temenin saya ngobrol dulu napa disini “ jawabnya sambil menatap mataku dengan sorotan yang tajam.
“ Maaf mas, saya buru-buru. Masih banyak tamu undangan yang harus saya jamu. Ngobrolnya nanti aja ya “
Aku pergi meninggalkannya. Sebenernya pengen sih ngobrol, cuma gengsi aja. Takutnya aku di sangka cowo gampangan. Aku juga takut kalau nanti keluarga ku melihat dan berfikir negatif. Gini nih sialnya cowo gay, kalau mau PDKT sama cowo harus bisa milih-milih tempat dan harus tau situasi.

Hari mulai semakin panas, matahari pun terus bergerak hingga sekarang tepat berada di tengah. Para tamu undangan semakin banyak yang berdatangan. Dari tadi aku terduduk di meja penerima tamu bersama kedua saudara perempuanku. Senyum pun tak lepas dari wajahku. Kadang beberapa tamu undangan perempuan menggodaku dengan genit. Aku hanya tersenyum saja bila di goda mereka. Mungkin mereka fikir dengan cara itu mereka akan mendapatkan hatiku. Padahal salah besar, aku malah makin jiji melihat mereka.
Aku kembali menuju pelaminan, kaka sepupuku mengajakku untuk kembali berfoto bersamanya. Sang Fotografer itu pun mulai mengambil ancang-ancang. Dan JJEEPPRREETTT…, kilauan lampu kamera keluar. Si Fotografer itu melihat hasil jepretannya. Ia tersenyum manis saat melihat foto di kameranya.
“ Kak, dapet darimana sih tu fotografer? “
“ dia temen kak David, kak Iren juga baru kenal sama dia “ timpal kaka sepupuku.
“ emang kenapa han? Ada yang aneh ya sama dia? “ kak David menambahkan.
“ Enggak ada kak, ya udah Rayhan balik lagi kedepan ya. Kasian Friska sama Windi di depan, kerepotan mereka. “
Aku kembali turun dari pelaminan dan menghampiri kedua saudara ku kembali yang sedang berada di meja penerima tamu.

*****
Acara sudah selesai, gedung mulai di rapihkan kembali. Semua barang mulai dari kursi, piring, dan tempat-tempat makanan kini telah berpindah ke dalam mobil box untuk kembali di pulangkan. Akupun sekarang sedang berada di mobil bersama ayah dan ibuku.
Aku jadi teringat akan wajah tampan si fotografer itu. Sungguh aku sangat menyesal karna tadi telah menolak untuk berbicara dengannya. Aku tak tau siapa namanya, berapa nomor handphone nya, dan dimana alamat rumahnya. Jika bertanya kepada kak David, rasanya malu. Haahh.. sudah lah, ku lupakan saja si fotografer itu.
Ku buka acount twitter, ku tulis status untuk melepas penat dan untuk sedikit mencurahkan isi hatiku. Setelah itu ku buka profil ku, saat ku lihat ternyata ada satu followers yang baru saja mem-follow twitterku. Saat ku tengok acount twitter yang baru mem-follow ku itu, aku terperanjat kaget + senang. Ternyata acount itu milik si fotografer tampan yang tadi membuatku mabuk kepayang. Hahay, jodoh memang tak lari kemana.
Selang beberapa lama, ada satu mention yang masuk. Ku buka, ternyata itu mention dari si fotografer tampan.
@Rayhan_pratama akhirnya ketemu juga acount twitter si mas. Masih inget saya kan mas?
Itulah sepenggal pesan darinya. Ku balas mention darinya
@kikiphoto’s iya mas, ini yang tadi jadi fotografer nikahan kaka sepupu saya kan? Tau acount twitter saya darimana?
Ku tunggu beberapa menit akhirnya dia membalas kembali.
@Rayhan_pratama saya tau acount twitter mas dari David. Oh ya mas, saya boleh minta no hp nya gak. Atau pin bb nya
Segera ku balas kembali mention darinya, begitu seterusnya. Kami saling bertukar nomor handphone, dan banyak lagi yang di bicarakan. Setelah mengetahui pin bb satu sama lain akhirnya kami alihkan pembicaraan lewat bbm. Sekarang aku tau namanya. Rizki Satria Utama, nama yang cukup bagus dan laki banget. Umurnya baru sembilan belas taun dan sekarang dia kuliah di fakultas kedokteran gigi. Dia hoby fotografer dari SMP dan setelah keluar SMA dia memiliki studio foto sendiri.
Banyak hal yang sudah ku ketahui tentang Rizki, mulai dari makanan favorite nya, tongkrongan favoritnya, sampai-sampai ia ceritakan keluarganya kepadaku. Ia anak tunggal sama sepertiku. Ayahnya bekerja di sebuah perusahaan produk ternama dan ibunya seorang bidan. Menurutku Rizky pria yang baik, sopan, cerdas, dan cukup friendly. Ia juga penyuka olahraga basket sama sepertiku. Hanya saja dia tidak bisa bermain basket.
Rencananya besok aku akan bertemu bersamanya, tentunya di studio foto miliknya. Katanya sih ia akan menunjukan hasil jepretan kameranya tadi. Tak sabar aku menunggu hari esok.
******
Hari sudah berganti, matahari baru pun mulai menyinari bumi. Warna jingga di ufuk timur sangat terang benderang. Aku masih tertidur di atas kasur. Hawa dingin merasuki tubuhku yang hanya memakai baju tanpa lengan. Bulu-bulu di tubuhku meremang karena merasakan rangsangan hawa yang dingin. Ku ambil handphone ku, ada satu pesan di blackberry messanger ku yang masuk. Ku buka ternyata itu sapaan selamat pagi dari Rizki untukku. Tak ku balas pesanya, aku pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan wajahku yang sepertinya sangat kusut ini. Setelah itu aku keluar kamar untuk menyapa ayah dan ibuku.
“ Eeehhh… si jagoan udah bangun. Ayo sini sarapan dulu bareng ayah “
“ Iya yah! “
“ Kamu hari ini kuliah nak? “ kata ibuku
“ Ada ma, Cuma nanti siang. “
Aku duduk di depan ayah dengan membawa secangkir air putih. Ku ambil sepotong roti dan ku oleskan selai kacang di atasnya. Ku lahap sedikit demi sedikit. Inilah rutinitasku sehari-hari. Setelah perut ku terisi beberapa potong roti, aku pergi ke kamar untuk latihan angkat beban. Ayah sering membelikanku alat-alat GYM seperti tread meal, barbel yang ukurannya kecil hingga yang besar. Ku awali olahragaku hari ini dengan berlari di atas tread meal.
Peluh yang bercucuran membasahi bajuku. Ku buka bajuku yang basah ini dan terlihatlah tubuh sixpack yang di basahi oleh keringat. Kalian pasti tau kan gimana rupanya kalau tubuh sixpack di banjiri keringat? SO SEXSY…
Sepuluh menit aku berjalan di atas tread meal akhirnya ku lanjutkan dengan mengangkat barbel dengan ukuran 30kg. Otot bisep ku bereaksi, menonjol dengan keras. Keringat semakin membanjiri tubuhku. Ku nyalakan musik untuk lebih merilekskan tubuhku.

Waktu sudah menunjukkan pukul 13:30. Saat ini aku sudah berada di kampus dan sedang mengikuti kelas dosenku yang umurnya sudah tua. Tak ada yang spesial hari ini bagiku. Yang ada hanyalah rasa bosan dengan ocehan dosen tua di depan ku ini. Akhir pelajaran aku di tugaskan untuk membeli beberapa buku mengenai psikologi. Ya aku memang kuliah di fakultas psikologi di Unversitas yang sudah ternama dan tersohor kemana-mana.
Aku keluar dari ruangan, segera aku ke tempat parkiran untuk mengambil motorku. Handphone ku bergetar di dalam saku celana, ku rogoh dengan cepat dan mengangkat telfon dari seseorang.
“ Halo.., siapa ni? “ sapaku
“ ini gue Rizki, lo jadi kan ke foto studio gue ? “
“ Iya Ki, ini gue baru keluar dari kampus. Bentar lagi gue nyampe disana. “
“ Ok gue tunggu, sampe ketemu ya Han “
Dia menutup telfonnya. Aku tersenyum, haahh.. rasanya tak sabar untuk segera menemuinya.
@@@@@
“ Rizki’s Photo Studio “
Plang besar itu terpangpang di depan sebuah foto studio yang lumayan besar. Aku memasuki foto studio itu. Kulihat banyak sekali orang yang sedang menunggu untuk di foto di studio ini. Ku tanyakan keberadaan Rizki kepada seorang wanita yang sepertinya asisten di studio foto ini.
“ Maaf mba, Rizki nya ada? “
Si wanita itu hanya melihatku saja. Matanya serius sekali saat melihat wajahku. Dasar wanita aneh.
“ Mas cakep banget sihh.. “ timpalnya sambil mencubit pipiku
“ Aduh mba, saya kan nanya ada Rizkinya gak? “
“ Ada mas, tapi Rizki lagi sibuk ngurusin client yang mau di foto. Kalau mau mas bisa tunggu di ruang kerjanya Rizki. “
Aku mengangguk.
“ Bisa tolong antarkan saya ke ruang kerjanya? “
“ ooohh.. bisa mas, dengan senang hati “ Ucapnya dengan genit.
Masukklah aku ke dalam sebuah ruangan yang lumayan megah. Di dindingnya banyak sekali foto orang yang sedang bergaya. Sepertinya itu foto model-model yang sudah propesional. Aku duduk di sofa merah di sebelah kanan meja kerja Rizki. Si perempuan tadi kembali masuk ke ruang kerja Rizki ini sambil membawa segelas orange jus.
“ Silahkan diminum dulu mas. Tadi saya sudah bilang ke Rizki, katanya sebentar lagi dia akan menemui mas kesini “
“ makasih ya mba.. “ ku berikan senyumku padanya.
Ku reguk minuman itu hingga habis setengahnya
“ Haus ya mas? “ tanya si perempuan itu
“ Loh mba ko masih disini? Di depan kan lagi banyak tamu tuh. Mba lebih baik balik lagi aja ke depan. Saya sendirian disini gak apa-apa ko “
“ Tapi saya boleh minta foto bareng mas gak? “
“ Minta foto? Saya bukan artis mba “
“ iya saya tau mas bukan artis. Saya pengen aja foto bareng mas. Boleh yaaa… “
Aku mengangguk, meng-iya kan keinginannya. Ia mengambil handphone nya dari dompet kecil. Lalu ia duduk di sebelahku dan dia mengarahkan kamera handphone nya ke arah kami. Satu foto sudah ada di handphone nya.
“ Makasih ya mas, saya pergi dulu.. “
“ Silahkan.. “ kataku.
@@@@
Cukup lama aku menunggunya di sini. Hingga aku merasa bosan, tapi akhirnya ia masuk ke dalam ruangan. Rizki terlihat lebih tampan dari biasanya. Walaupun hanya memakai T-shirt warna hijau dan celana warna moca tapi sangat bagus menurutku. Ia memberikan senyum manisnya kepadaku.
“ Sorry ya gue udah bikin lo nunggu lama disini “ katanya sambil menghampiriku dan duduk di sebelahku.
“ Iya gak apa-apa ko. Gue yang harusnya minta maaf sama lo, gue udah ganggu lo ya? Lo keliatannya lagi sibuk banget hari ini “
“ Ahh… enggak ko. Kan gue yang ngundang lo kesini. “
“ Terus di bawah yang nanganin client siapa? “
“ Asisten gue, namanya Giska “
“ Pasti itu cewe yang ada di depan ya? yang nganterin gue kesini? “
“ iya dia tadi yang nganterin lo. Emang kenapa? “
“ Enggak, Cuma agak sedikit kesel aja. Abisnya dia genit-genit gitu sama gue. Jadi jiji liatnya “
“ Hahaha… dia emang kaya gitu Han. Eh gue ambil makanan dulu ya, lo nunggu sebentar lagi disini ya. Kalo lo mau liat foto-foto kemaren waktu nikahan kaka sepupu lo, tuh liat di laptop yang ada di meja gue “
Ia pergi meninggalkanku.
*****
Ku tekan tombol on di sudut kiri laptop milik Rizki. Setelah itu ku buka Windows Exploler di laptopnya. Ku buka file yang isinya foto-foto pernikahan kaka sepupuku kemarin. Hasil fotonya sangat bagus, ia bisa mengambil sudut foto yang baik. Tapi yang anehnya banyak sekali fotoku dalam file ini. Ada fotoku saat aku makan, saat beramah tamah bersama tamu undangan, bahkan saat aku memainkan handphone pun ada fotonya.
Tak berapa lama Rizki kembali lagi dengan mengambil dua toples kecil yang isinya cemilan-cemilan ringan untukku.
“ Gimana? Udah liat hasil fotonya? “
“ udah, foto-foto lo bagus juga. Kapan-kapan ajarin gue ya bro. “
“ Aaahh.. lo gak usah belajar gunain kamera, medingan lo belajar jadi model aja. Muka lo fotogenik tuh. Jujur, kemaren gue lebih tertarik nge-foto lo ketimbang pengantinnya “ pujinya kepadaku
“ Aaaahhhh… bisa aja lo. Emang gue bagus ya di depan kamera. Eeemmmhhhh… pantesan aja di file ini ada banyak foto gue. Kapan ngambilnya tu foto “
Rizki tersenyum sambil memandangiku. Aku menjadi malu, sepertinya sekarang wajahku seperti udang rebus yang matang.
“ Kenapa lo liatin gue kaya begitu? “
“ Enggak ko, kemaren gue nyoba aja foto lo sembarangan. Tapi hasilnya bagus kan? Makannya gue simpen foto itu. Mau di cetak? “
“ Gak usah deh. Foto ini simpen di file lo aja, itung-itung tanda terimakasih dari gue karna lo udah muji gue “
Rizki tertawa lepas. Tawanya yang riang itu semakin menambah ketampanan dirinya.
Kami melanjutkan obrolan kami. Sungguh aku merasa nyaman ada di dekatnya. Aku baru merasakan kembali kenyamanan seperti ini lagi setelah putus dari pacarku yang dulu. Rasanya ingin aku memiliki Rizki sepenuhnya. Aku sudah terlanjur mencintainya sekarang. Tapi, yang aku takutkan adalah gimana kalau Rizki itu Straight guy? Aku kan belum tau dia gay atau bukan.
Hari semakin sore, para client yang di foto pun semakin jarang. Jam menunjukkan pukul 18:00. Selesai shalat maghrib, aku berpamitan dengan Rizki dan Giska. Aku di bawakan oleh-oleh cemilan dari Rizki. Katanya sih camilan ini buatan dirinya sendiri, ku terima oleh-oleh camilan dari Rizki dengan senang hati.
@@@@@
Malam hari di rumah begitu terasa sepi. Ayah dan ibuku masih belum pulang dari kantornya. Aku sedang duduk-duduk santai di belakang halaman rumah. Memandangi bintang yang bertebaran dilangit. Sang Rembulan pun menambah keindahan di malam hari ini.
Tadi sore, merupakan sore terindah untukku. Bisa berduaan dan mengobrol bersama seorang fotografer yang memiliki wajah yang rupawan. Sepertinya hatiku sudah mantap untuk mencintainya. Rizki.. Rizki…, kamu pake pelet apaan sih sampe-sampe aku langsung kesengsem sama kamu.

*****

Singkat cerita, hari demi hari, bulan demi bulan, kulewati bersama Rizki. Aku semakin akrab dengannya, bahkan Rizki sering main ke rumah dan sesekali menginap. Jika dia sudah menginap, hatiku selalu berdebar. Setiap tertidur bersamanya aku selalu merasa nyaman. Aku selalu menatap wajahnya jikala ia sedang tertidur pulas. Suara dengkurannya pun selalu menjadi nyanyian di malam hari yang begitu indah menurutku.
Berkat berkenalan dengannya, sekarang aku menjadi seorang model untuk photo studio nya. Berkat Rzki juga aku menjadi model yang bisa di katakan propesional sekarang. Pokoknya dia memberikan banyak perubahan bagiku.
Tapi, meski kami sudah sedekat itu, belum ada hubungan spesial apapun antara aku dan Rizki. Hubungan kami masih sebatas teman. Aku masih belum berani untuk mengatakan cinta padanya. I don’t know why it is hard to express love for him. Setiap kali ingin mengatakan cinta, pasti ada rasa takut yang amat sangat besar. Entah lah, mungkin aku harus sedikit bersabar akan hal ini.
Siang ini rencananya aku akan pergi ke sebuah mall untuk membeli buku keperluan kuliahku. Di luar, matahari bersinar terik. Aku yang pergi memakai motor sangat merasa kepanasan. Sesampainya di dalam mall rasa panas itu hilang berganti dengan sejuknya AC. Aku berjalan mengitari mall mencari toko buku.
Saat aku berada di depan sebuah restoran, aku melihat pria yang tak asing lagi bagiku. Si pria itu sedang tertawa, bercanda ria dengan seorang perempuan. Ku lihat lebih dekat lagi, ternyata itu Rizki. Sedang apa dia bersama wanita itu? Rasa cemburu merasuki hatiku. Sakit yang mendalam begitu terasa, menusuk-nusuk jantungku. Ternyata benar dugaanku, Rizki pria normal!. Betapa bodohnya diriku sudah mencintai orang yang salah. Aku pergi menjauh dari restoran itu. Aku tak mau melihat fotografer tampan itu lagi! Aku harus melupakannya.
Setibanya di rumah, segera ku buang semua pemberian dari Rizki untuku. Gelang, baju, dan yang lainnya ku masukkan ke dalam keranjang. Ku hapus nomor handphone dan ku delete pin bb nya dari handphone ku. Acount twitternya ku unfollow. Aaarrggghhh… sialan! Kenapa akhirnya harus seperti ini?
Kenapa aku harus selalu yang di sakiti? Mengapa aku harus di pertemukan dengan Rizki di saat pernikahan kaka sepupuku? Ku lepas semua fotoku bersamanya di dinding kamarku. Ku obrak abrik kamarku. Dentangan pecahan kaca menggema di dalam kamarku. Aku tak peduli karna saat ini aku sedang sendirian di rumah.
“ Kenapa gue harus ketemu lo BANGSAT!! Gue nyesel ketemu lo.., lo Cuma bikin gue ancur. DAMN!! YOU MAKE ME BROKEN HEART! WHY SHOULD WE FINALLY SEE IF LIKE THIS. “ aku berteriak sekencang mungkin.
Aku terduduk di sudut ruangan. Merenungkan apa yang telah terjadi selama ini antara aku dengannya. Banyak hal yang tlah terjadi, senyumnya yang manis itu tak bisa ku lupakan sekejap mungkin. Suaranya yang nge-bass tak bisa ku lupakan. Rasanya selalu terngiang-ngiang di telingaku.
Handphone ku berdering, di layar kaca hanya tertera nomor yang tak di kenal. Ku angkat telfon itu.
“ Halo, siapa nih? “
“ loh kok nanya gitu. Ini gue Rizki “
“ mau apa? “
“ enggak, Cuma pengen ngajak lo makan malem aja nanti. Bisa kan? “
“ sorry bro, gue gak bisa. Gue pun gak mau ketemu lo lagi. Jadi please.. jangan telfon gue lagi. Oh ya, makasih karna selama ini lo udah selalu luangin waktu buat gue bro! “
“ Tapi kenapa? Gue salah apa han? “
“ lo tanya aja sama diri lo sendiri. Udah ah, gue males ngomong sama lo “
Telfon itu ku putuskan. Ku lemparkan hp itu ke atas kasur. Aku kembali merenung..

Siang kini berganti menjadi malam. Angin masuk ke dalam jendela yang sengaja ku buka lebar. Aku masih disini, di sudut kamarku. Di sekelilingku masih berantakan. Ku coba menahan tangis, tapi.. tak bisa. Aku memang payah, cengeng..! hanya dengan seorang pria saja aku seperti ini.
Dari tadi handphone ku berdering. Tapi tak ku angkat, puluhan sms pun berderet di handphone ku. Aku tak mau membacanya, segera ku hapus semua pesan itu. Akhirnya ku putuskan untuk pergi mandi agar lebih segar.

Aku terduduk di bawah guyuran air shower. Aku masih saja menahan rasa sakit ini. Kenapa susah sekali melupakan Rizki. Baru kali ini aku merasakan sakit hati yang teramat dahsyat.
*****
Keesokan harinya keadaan hatiku semakin membaik. Walaupun mata bengkak, tapi tak apalah. Nama Rizki sudah mulai bisa aku lupakan. Tadi pagi, ayah dan ibu keheranan melihat wajahku yang lesu dengan mata bengkak. Mereka kira aku habis berkelahi.
Saat ini aku sedang duduk anteng di depan tv sambil memakan cemilan. Kedua orang tuaku sudah pergi kembali bekerja. Hari ini rasanya malas sekali utnuk pergi kuliah. Aku masih ingin di rumah, menenangkan diri tepatnya.
Bel rumahku berbunyi, ku alihkan perhatianku ke arah pintu. Siapa yang datang? Tak biasnya ada tamu datang jam segini. Aku bangkit dari sofa dan pergi membukakan pintu. Saat ku tengok, hatiku kembali membara. Are you know? RIZKI si fotografer tampan itu ada di hadapanku saat ini. Ku tutup pintu itu, tapi sialan! Tangan rizki lebih cepat untuk menahan. Dia mendorong pintu agar terbuka lebar. Lalu ia masuk ke dalam rumahku dan memeluk diriku yang sedang terduduk karena terjatuh akibat dorongannya tadi.
Ku dorong kembali tubuhnya untuk menjauh dariku dan ku berikan hantaman pukulan tanganku tepat di pipinya. Pipinya membiru akibat pukulanku.
“ Han! Ngapain lo tinju gue? “ ucapnya sambil mengusap darah yang menetes di pipinya.
“ gue muak sama lo! Pergi lo dari rumah gue sekarang “ ku usir dia.
Tapi, Rizki malah bangkit dan menatap wajahku tajam. Sebuah rangkaian bunga dari tangannya terjatuh begitu saja ke lantai.
“ Lo kenapa sih hah? Dari kemaren gue sms gak di bales. Apalagi telfon gak pernah di angkat. Apa salah gue sama lo hah? Apa? “ di sudut matanya ku lihat setitik air mata yang menggenang.
“ Lo udah nyakitin hati gue Riz! Sejujurnya gue tuh suka sama lo. Gue cinta sama lo, tapi setelah kemaren gue liat lo berduan sama cewe di restoran, gue langsung tau kalo lo bukan gay. Gue kemaren nyoba buat lupain lo. Tapi gak bisa.., kenapa sih gue harus ketemu lo? Lo Cuma bikin gue sakit hati tau gak? “ Aku berbicara dengan nada yang tinggi.
Rizki bengong melihatku berbicara keras seperti itu. Lalu tak berapa lama kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Aku kebingungan dengan sikapnya. Kenapa dia ketawa?
“ ngapain ketawa lo? Orang gue serius juga. Gila kali lo ya “
Rizki tak berhenti tertawa. Malah tawaannya itu semakin menjadi. Aku semakin bingung, apa mungkin dia sudah gila karena tonjokkanku tadi? Ya tuhan.., ampunilah dosaku.
“ hahahahahaha….. Rayhan.. Rayhan.. lo tuh ya ada-ada aja “
“ Apa maksud lo? Kenapa sih lo hah? “
“ Pasti lo ngeliat gue kemaren di restoran prancis yang di Mall itu kan? Yang kita pernah kesitu? “ tebaknya.
Aku mengangguk.
“ Ya ampun… itu gue lagi sama adek sepupu. Kebetulan dia ulang taun yang ke enam belas. Dia minta hadiah ulang tahun ke gue. Ya udah gue ajak dia makan di resto itu “ jelasnya sambil tertawa kembali.
“ Gue gak percaya sama lo. Udah deh, mendingan lo pergi dari sini sekarang “
“ Weits, jangan main ngusir dulu dong. Coba liat deh foto ini. Ini kan cewe yang lo liat kemaren? “
Aku kembali mengangguk.
“ iya dia itu adik sepupu gue. Makannya kalau apa-apa itu tanyain dulu ke orangnya. Jangan langsung ambil keputusan sendiri “
Aku tertunduk dengan penuh rasa malu. Haaahh… dasar bodoh, kenapa Rizki gak bilang dari kemaren ya? Kan kalau bilang dari kemaren aku pasti gak akan uring-uringan kaya gini.
“ Jadi bener nih lo suka sama gue? “ katanya dengan nada menggoda.
Aku tak berani menatapnya. Tapi, sesuatu hal yang tak kuduga terjadi. Rizki memeluk dan mencium keningku dengan lembut. Pelukannya sangat erat hingga aku dapat mencium kembali aroma parfum di bajunya.
“ Dari awal kita ketemu, gue juga udah suka sama lo han. Gue udah tertarik sama lo. Cuma lo nya aja yang selalu acuhin gue kaya begitu. Gue gak nembak lo dari dulu karna gue mau momen yang pas buat hal itu. “ ujarnya sambil terus memeluk dan menusap rambutku.
“ kayanya sekarang momen yang pas deh buat kita pacaran. So, you want tobe my boyfriend? “ dia melepas pelukannya lalu menyodorkan bunga kepadaku.
Aku kehabisan kata-kata, yang ada hanya rasa malu dan senang yang amat sangat besar. Aku mengangguk dengan tegas. Senyum di wajahnya terpancar dengan jelas! Lalu dia kembali memelukku, ku balas pelukannya.
Rizki memegang kepalaku dengan lembut, lalu ia selipan tangannya di kedua sisi kepalaku. You know? He Kiss me.. Ciumannya tak bisa tertahankan. Hembusan nafasnya begitu terasa. Matanya menatap mataku dengan penuh kasih. Ia melepaskan kembali tangannya dari kepalaku
“ kalau udah pacaran kaya gini, kita sah dong buat ngelakuin itu… “ Rizki mencolek dadaku.
“ ngelakuin apa? Awas ya jangan macem-macem sama gue! “ kataku sambil mengepalkan tanganku.
“ Ah.. kamu sayang, masa gak tau sih! Itu loh… main kuda-kudaan “ bisiknya di telingaku.
“ Gak mau! “ aku menolak, padahal hatiku berteriak kegirangan saat di tawari hal itu
“ Ayolah, sebagai permintaan maaf kamu deh! Kan kamu udah nonjok aku sampe berdarah gini. Ya honey.. please.. come on.. “ bisiknya lagi dengan lirih di telingaku
Rizki lalu menggendongku, dan……..,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

THE END

Related posts